Si Mas–Alhamdulillah, jadi Ketua BEM–

Pernah tak di tengah berbagai crossing kewajiban, di tengah berbagai hectic akaemik, terus tiba-tiba merasa hilang arah dan patah aral? Bagi saya, kondisi seperti itu adalah sebuah kondisi yang berat. Setiap orang yang mengalami kondisi ini WAJIB TAHU SOLUSINYA. Karena kondisi begitu tak boleh disimpan dan di “nikmati” terlalu lama. Disinilah momentum saya menikmati nostalgia masa-masa SMA. Dulu saya punya teman namanya Muhammad Tanri Arrizasyifaa(The best partner I have ever had). Orang yang tak lugu tapi lucu. Senyumnya Indah, tapi tak menghilangkan wibawa. Yang wajahnya ramah, tapi selalu tebar pesona(yang tidak disengaja).

Dari dulu ingiiiiin sekali bisa menyamai dirinya. Setidaknya menyamai kapsiitas pribadinya yang overall  Sejujurnya saya tidak tahu banyak perkembangan dirinya saat ini.

Terakhir ketemu saya merasa sedih. Karena sekarang dirinya terlalu keren bagi saya. tapi tiba-tiba ada sebuah kalimat menggugah yang ia sebutkan.

“Bang!! Setiap orang kan bisa keren dengan caranya masing-masing. Jangan terlalu banyak ngelirik orang bang.Yang pasti cari kekerenan pada dirimu sendiri”

Mas-mas… Semoga dirimu dimasukan surga karena kecintaan Allah padamu^^

 

Oiya mas… dirimu jadi ketua BEM UNPAD ya Mas… Alhamdulillah…Mudah-mudah istiqamah ya mas…..

Bakkallahufiik…

smoga si mas& ikhwan-akhawat furqaners08 lainnya

istiqamah di jalan Allah & kita bisa reuni lagi di surgaNya

Pedagogi

Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.[1]

Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru. Salah satu contohnya adalah aliran pemikiran Sokrates.[2]

Etimologi

Seorang guru sedang mempraktikkan ilmu dan seni dalam memotivasi peserta didik.

Kata “pedagogi” berasal dari Bahasa Yunani kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: membimbing; secara literal berarti “membimbing anak”). Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak tuannya. Termasuk di dalamnya mengantarnya ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti alat musiknya).[3]

Kata yang berhubungan dengan pedagogi, yaitu pendidikan,[4] sekarang digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut.

Malcolm Knowles mengungkapkan istilah lain yang mirip dengan pedagogi yaitu andragogi, yang merujuk pada ilmu dan seni mendidik orang dewasa.

Mengajarkan anak tentang indahnya shalat malam

Duhai anakku, kan ku bawa dirimu keluar rumah pukul 3 pagi ketika tepat usiamu 3 tahun. Kemudian sambil menggendongmu akan aku katakan,”duhai anakku, di atas sana ada jutaan malaikat yang sedang bertasbih.” Setelah itu kusampaikan,”Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang tidak lalai menjalanlan shalat malam. Ayo nak, kita berdoa agar diamini jutaan malaikat.”

Belajar dari Ali bin Abi thalib (Biografi)

Ali Bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib salah satu tokoh dunia, lahir di Mekkah diperkirakan sekitar tahun 599 masehi. Sahabat dekat nabi, menantu Rasulullah, juga family Rosul dalam garis keturunan abdul Muthalib. Ali juga satu dari 4 khulafaurasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) yang berperan sebagai pembela nabi, penyebar ajaran Islam dan khalifah Islamiyah sepeninggal Rasul.
Nama asli Imam Ali adalah Haydar bin Abu Thalib, putra dari paman Nabi Muhammad SAW. Ibunya bernama Fatimah binti Asad, sedangkan Asad anak dari Hasyim Jadi menjadikan Imam Ali adalah keturunan Hasyim dari garis bapak. Haydar berarti Singa adalah sebuah cita-cita yang diingin abu Thalib kelak Imam Ali akan menjadi petarung sejati di kalangan suku-suku Quraisy. Dikemudian hari Ali memang tumbuh menjadi petarung sejati, tokoh yang disegani suku Quraisy dan panglima perang yang tak kenal rasa takut. Beliau dedikasikan seluruh jiwa,raga dan hidupnya untuk membela, mengembangkan ajaran Islam yang dibawa Rosulluloh Muhammad SAW. Nama Ali adalah pemberian Nabi SAW yang berarti tinggi derajatnya di sisi Alloh SWT.

Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi SAW karena pernikahan beliau dengan Siti Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi SAW kepada pamannya Abu Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil. Konsistensi dan totalitas Ali dalam mendukung dakwah nabi terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Alloh yang diturunkan kepada Nabi SAW. Saat itu usia Ali baru sekitar 10 tahun. Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (jahiliyah). Sikap yang diambil Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai.

Nabi SAW adalah mentor dan guru Imam Ali karena beliau sekaligus menjadi pengasuhnya. Ali memiliki ikatan emosi dan menjadi orang terdekat Nabi SAW hingga akhirnya pada usia dewasa dijadikan menantu Nabi dengan mempersunting Fatimah Al Zahra. Ini terjadi setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah. Nabi menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga (Bani Hasyim), Sekaligus orang yang pertama kali mempercayai kenabian Muhammad setelah Khadijah. Selain itu Nabi jelas memahami seluk beluk kebribadian, watak dan karakter Ali.

Sebagian besar ulama sufi (Ahli Tasawuf) menganggap Nabi telah menurunkan pengetahuan dan gemblengan ruhani berupa tasawuf secara khusus hanya diberikan kepada imam Ali. Ini dengan asumsi bahwa untuk ilmu syariat, fiqih, tauhid, dan seputar ibadah memang harus disampaikan secara luas kepada semua orang. Namun untuk ilmu tasawuf hanya diberikan kepada orang-orang istimewa (dalam keimanan dan ilmunya) mengingat tasawuf adalah tataran tertinggi dalam hubungan antara manusia dengan sang pencipta. Gemblengan secara langsung dari nabi SAW, menjadikan Ali seorang pemimpin yang komplit. Cerdas, Berani, Bijaksana dan berpengetahuan luas.

Keberanian Ali terlihat dari kesediannya tidur di kamar Nabi untuk mengecoh orang-orang Quraisy yang berencana membunuh Nabi dan menggagalkan hijrah Nabi . Sku Quraisy pun terkecoh ketika menjelasng subuh ternyata sosok yang tidur di kamar Nabi SAW adalah Ali. Sementara Nabi SAW sudah berangkat menuju Madinah bersama Abu Bakar Syidiq.

Keberanian Ali juga terlihat dari perannya sebagai panglima perang bagi kaum muslimin pada saat berusia 25 tahun. Dalam perang Badar (perang pertama dalam sejarah Islam) Ali dan Hamzah (paman nabi) menjadi pahlawan. Pedang Ali meluluhlantakkan barisan suku Quraisy sehingga perang ini akhirnya dimenangkan kaum muslimin Perang Khandaq juga saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud . Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian. Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian. Semua peperangan Nabi menghadapi kaum kafir selalu diikuti Ali. Dan ia menjadi bagian penting dari setiap peperangan tersebut.

Menjadi khalifah

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf.

Referensi: Wikipedia.org

Cara rasul makan (tafakur gokana tepan)

`Selamat siang mas, untuk berapa orang?` tanya mba pelayan itu kepadaku. Aku pun menjawab,`dua orang mba`. Mba itu pun mengantarkan kami ke tempat yang telah disediakan. `ini menunya mas. Silakan panggil saya kembali jika sudah selesai. Terimakasih` katanya. kami pun memilih makanan. Ada tempura, sushi, capucino, yaki, dll. Untuk kali ini kami jatuh hati kepada ramen. Akhirnya kami memesan dua ramen porsi sedang. Yummy,alhamdulillah. i hope it has a delicious taste. Tak lama menunggu, makanan pun terhidang. Dua porsi ramen plus capucino siap disantap. Ku pegang sumpit dengan penuh semangat. Ku kumpulkan segulung mie untuk kumakan segera. Tanpa ragu ku masukan ia. Ammm…..enak alhamdulillah. Tapi tiba tiba setelah beberapa suap ku santap muncul sebuah kilatan pikiran. Andaikan rasulullah makan gokana tepan, apa yang akan beliau lakukan ya? Seharusnya yang aku lakukan sama dengan yang rasul lakukan. Sungguh indah pola makan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pola makan yang memerhatikan kaidah keagamaan, kenikmatan dan penjagaan terhadap kesehatan, seperti yang ditetapkan oleh ilmu kedokteran baik dulu maupun sekarang. Nah, setelah mencari cari ternyata inilah beberapa tata cara dan adab makan yang dianjurkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
1- Membaca basmalah (ﷲا ﻢﺴﺑ) sebelum makan, dan jika lupa maka
membaca,”Dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya”
2- Duduk dengan baik tegap dan tidak menyandar, karena hal itu lebih baik bagi lambung sehingga makanan akan turun dengan sempurna. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah melarang kita untuk makan sambil bersandar
Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak makan dengan bersandar”
3- Mencuci tangan sebelum makan, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
4- Menggunakan tangan kanan.
5- Bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan ketika makan.
6- Memulai makan dari yang dekat dan tidak memenuhi mulut dengan makanan yang banyak.
7- Tidak banyak bicara ketika sedang makan.
8- Disunnahkan untuk makan secara berjamaah dan tidak berpencar sendiri-sendiri,karena jamaah akan mempererat persaudaraan dan menyebabkan turunnya barokah pada makanan kita.
9- Ketika makan berjamaah dalam satu tempat makan maka jangan mengembalikan apa yang tersisa ditangan ke tempat makan, akan tetapi ambilah suapan yang sedikit hingga tidak bersisa.
10- Tidak mengeluarkan suara keras ketika mengunyah makanan, karena hal itu mengganggu orang lain.
11- Jangan mengawasi dan melihat-lihat orang yang sedang makan, karena hal itu mengganggu perasaan mereka, dan mengurangi selera makan.
12- Tidak menyisakan makanan dipiring, bahkan kita dianjurkan untuk membersihkan tangan dan jari-jari kita dengan mulut ketika selesai makan,dan jika ada makanan yang jatuh supaya dipungut dan dibersihkan kemudian dimakan.
13- Membaca hamdalah dan doa setelah makan,
Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa susah payah.
14- Mencuci tangan setelah makan.

Inilah beberapa tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam makan dan minum, semoga kita bisa mengikuti jejaknya, amin ya rabbal alamin.
Itadakimasu…..^^

Kasih tak sampai(Dahlan Iskan)

DAHLAN ISKAN

Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?

by dahlan iskan

Posted by ⋅ 20 Oktober 2011

Malam itu saya sudah berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Siap berangkat ke Amsterdam, Belanda. Tas sudah masuk bagasi. Saya cek lagi paspor untuk melihat dokumen imigrasi. Semua beres. Saya pun siap-siap, sebentar lagi boarding. Istri saya sudah berada di Eropa tiga hari lebih dulu. Mendampingi anak sulung saya yang menjabat Dirut Jawa Pos, yang menerima penghargaan dari persatuan koran sedunia. Jawa Pos terpilih sebagai koran terbaik dunia tahun ini.

Saya pun kirim BBM kepada direksi PLN untuk memberi tahu saat boarding sudah dekat. “Kapan pulangnya, Pak Dis?” tanya seorang direktur. “Tanggal 21 Oktober. Setelah kabinet baru diumumkan,” jawab saya. “Ooh, ini kepergian untuk ngelesi ya,” guraunya.

Saya memang tidak kepengin jadi menteri. Saya sudah telanjur jatuh cinta dengan PLN. Instansi yang dulu saya benci mati-matian ini telah membuat saya sangat bergairah dan serasa muda kembali. Bukan karena tergiur fasilitas dan gaji besar, tapi saya merasa telah menemukan model transformasi korporasi yang sangat besar yang biasanya sulit berubah. Saya juga tidak habis pikir mengapa PLN bisa berubah menjadi begitu dinamis. Beberapa faktor terlintas di pikiran saya.

Pertama, mayoritas orang PLN adalah orang yang berotak encer. Problem-problem sulit cepat mereka pecahkan. Sejak dari konsep, roadmap, sampai aplikasi teknisnya.

Kedua, latar belakang pendidikan orang PLN umumnya teknologi sehingga sudah terbiasa berpikir logis.

Ketiga, gelombang internal yang menghendaki PLN menjadi perusahaan yang baik/maju ternyata sangat-sangat besar.

Keempat, intervensi dari luar yang biasanya merusak sangat minimal.

Kelima, iklim yang diciptakan Men BUMN Bapak Mustafa Abubakar sangat kondusif yang memungkinkan lahirnya inisiatif-inisiatif besar dari korporasi.

Lima faktor itu yang membuat saya hidup bahagia di PLN. Dengan modal lima hal itu pula, komitmen apa pun untuk menyelesaikan persoalan rakyat di bidang kelistrikan bisa cepat terwujud. Itulah sebabnya saya berani membayangkan, akhir 2012 adalah saat yang sangat mengesankan bagi PLN.

Pada hari itu nanti, energy mix sudah sangat baik. Berarti penghematan bisa mencapai angka triliunan rupiah. Jumlah mati lampu sudah mencapai standar internasional untuk negara sekelas Indonesia. Penggunaan meter prabayar sudah menjadi yang terbesar di dunia. Rasio elektrifikasi sudah di atas 75 persen. Provinsi-provinsi yang selama ini dihina dengan cap “ayam mati di lumbung” sudah terbebas dari ejekan itu. Sumsel, Riau, Kalsel, Kaltim, dan Kalteng yang selama ini menjadi simbol “ayam mati di lumbung energi” sudah surplus listrik.

Pada akhir 2012 itu nanti, tepat tiga tahun saya di PLN, saatnya saya mengambil keputusan untuk kepentingan diri saya sendiri: berhenti! Saya ingin kembali menjadi orang bebas. Tidak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan orang bebas. Apalagi, orang bebas yang sehat, punya istri, punya anak, punya cucu, dan he he punya uang! Bisa ke mana pun mau pergi dan bisa mendapatkan apa pun yang dimau. Saya tahu masa jabatan saya memang lima tahun, tapi saya sudah sepakat dengan istri untuk hanya tiga tahun.

Niat seperti itu sudah sering saya kemukakan kepada sesama direksi. Terutama di bulan-bulan pertama dulu. Tapi, mereka melarang saya menyampaikannya secara terbuka. Khawatir menganggu kestabilan internal PLN. Mengapa? “Takut sejak jauh-jauh hari sudah banyak yang memasang strategi mengincar kursi Dirut,” ujarnya.

“Bukan strategi memajukan PLN,” tambahnya. “Lebih baik selama tiga tahun itu kita menyusun perkuatan internal agar sewaktu-waktu Pak Dis meninggalkan PLN kultur internal kita sudah baik,” katanya pula.

Saya setuju untuk menyimpan “dendam tiga tahun” itu. Organisasi sebesar PLN memang tidak boleh sering guncang. Terlalu besar muatannya. Kalau kendaraannya terguncang-guncang terus, bisa mabuk penumpangnya. Kalau 50.000 orang karyawan PLN mabuk semua, muntahannya akan menenggelamkan perusahaan.

Sepeninggal saya ini pun tidak boleh ada guncangan. Saya akan mengusulkan ke menteri BUMN yang baru untuk memilih salah seorang di antara direksi yang ada sekarang, yang terbukti sangat mampu memajukan PLN. Kalau di antara direksi sendiri ada yang ternyata berebut, saya akan usulkan untuk diberhentikan sekalian. Tapi, tidak mungkin direksi yang ada sekarang punya sifat seperti itu.

Saya sudah menyelaminya selama hampir dua tahun. Saya merasakan tim direksi PLN ini benar-benar satu hati, satu rasa, dan satu tekad. Ini sudah dibuktikan, ketika PLN menerima tekanan intervensi yang luar biasa besar, direksi sangat kompak menepis.

Kekompakan seperti itu yang juga membuat saya semakin bergairah untuk bekerja keras mempercepat transformasi PLN. Saya menyadari waktu tidak banyak. Keinginan untuk bisa segera menjadi orang bebas tidak boleh menyisakan agenda yang menyulitkan masa depan PLN. Itulah sebabnya moto PLN yang lama yang berbunyi “listrik untuk kehidupan yang lebih baik” kita ganti untuk sementara dengan moto yang lebih sederhana tapi nyata: Kerja! Kerja! Kerja!

Tanggal 27 Oktober 2011 nanti, bertepatan dengan Hari Listrik Nasional, moto baru itu akan digemakan ke seluruh Indonesia. Kerja! Kerja! Kerja! Sebenarnya ada satu kalimat yang saya usulkan sebelum kata kerja! kerja! kerja! itu. Lengkapnya begini: Jauhi politik! Kerja! Kerja! Kerja!

Tapi, teman-teman PLN menyarankan kalimat awal itu dihapus saja agar tidak menimbulkan komplikasi politik. Tentu saya setuju. Saya tahu, berniat menjauhi politik pun bisa kena masalah politik!

Sudah lama saya ingin naik business class yang baru dari Garuda Indonesia. Kesempatan ke Eropa ini saya pergunakan dengan baik. Toh bayar dengan uang pribadi. Saya dengar business class-nya Garuda sekarang tidak kalah mewah dengan penerbangan terkenal lainnya. Saya ingin merasakannya. Saya ingin membandingkannya. Kebetulan saat umrah Lebaran lalu saya sempat naik business class pesawat terbaru Emirat A380 yang ada barnya itu.

Sejak awal, sejak sebelum menjabat CEO PLN, saya memang mengagumi transformasi yang dilakukan Garuda. Saya dengar di Singapura pun kini Garuda sudah mendarat di terminal tiga. Lambang presitise dan keunggulan. Tidak lagi mendarat di terminal 1 yang sering menimbulkan ejekan “ini kan pesawat Indonesia, taruh saja di terminal 1 yang paling lama itu!”

Beberapa menit lagi saya akan merasakan kali pertama business class jarak jauh Garuda yang baru. Saya seperti tidak sabar menunggu boarding. Di saat seperti itulah tiba-tiba; “Ini ada tilpon untuk Pak Dahlan,” ujar keluarga saya yang akan sama-sama ke Eropa sambil menyodorkan HP-nya.

Telepon pun saya terima. Saya tercenung. “Tidak boleh berangkat! Ini perintah Presiden!” bunyi telepon itu. “Wah, saya kena cekal,” kata saya dalam hati. Mendapat perintah untuk membatalkan terbang ke Eropa, pikiran saya langsung terbang ke mana-mana.

Ke Wamena yang listriknya harus cukup dan 100 persen harus dari tenaga air tahun depan. Ke Buol yang baru saya putuskan segera bangun PLTGB (pembangkit listrik tenaga gas batu bara) agar dalam delapan bulan sudah menghasilkan listrik. Ke PLTU Amurang yang tidak selesai-selesai.

Ke Flores yang membuat saya bersumpah untuk menyelesaikan PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) Ulumbu sebelum Natal ini. Saya tahu, teman-teman di Ulumbu bekerja amat keras agar sumpah itu tidak menimbulkan kutukan.

Pikiran saya juga terbang ke Lombok yang kelistrikannya selalu mengganggu pikiran saya. Sampai-sampai mendadak saya putuskan harus ada mini LNG di Lombok dalam waktu cepat. Ini saya simpulkan setelah kembali meninjau Lombok malam-malam minggu lalu. Saya tidak yakin, PLTU di sana bisa menyelesaikan masalah Lombok dengan tuntas.

Pikiran saya terbang ke Bali, membayangkan transmisi Bali Crossing yang akan menjadi tower tertinggi di dunia. Ke Banten Selatan dan Jabar Selatan yang tegangan listriknya begitu rendah seperti takut menyetrum Nyi Roro Kidul.

Meski masih tercenung di ruang tunggu Garuda, pikiran saya juga terbang ke Lampung yang enam bulan lagi akan surplus listrik dengan selesainya PLTU baru dan geotermal Ulubellu.

Juga teringat GM Lampung Agung Suteja yang saya beri beban berat untuk menyelesaikan nasib 10.000 petambak udang di Dipasena dalam waktu tiga bulan. Padahal, dia baru dapat beban berat menyelesaikan 80.000 warga yang harus secara masal pindah mendadak dari listrik koperasi ke listrik PLN.

Pikiran saya juga terbang ke Manna di selatan Bengkulu. Saya kepikir apakah saya masih boleh datang ke Manna tanggal 30 Desember, seperti yang saya janjikan untuk bersama-sama rakyat setempat syukuran terselesaikannya masalah listrik yang rumit di Manna. Saya terpikir Rengat, Tembilahan, Selatpanjang, Siak, dan Bagan Siapi-api yang saya programkan tahun depan harus beres.

Saya teringat Medan dan Tapanuli: alangkah hebatnya kawasan ini kalau listriknya tercukupi, tapi juga ingat alangkah beratnya persoalan di situ: proyek Pangkalan Susu yang ruwet, izin Asahan 3 yang belum keluar, PLTP Sarulla yang bertele-tele, dan Bandara Silangit yang belum juga dibesarkan.

Pikiran saya terus melayang ke Jambi yang akan menjadi percontohan penyelesaian problem terpelik sistem kelistrikan: problem peaker. Di sana lagi dibangun terminal compressed gas storage (CNG) yang kalau berhasil akan menjadi model untuk seluruh Indonesia. Saya ingin sekali melihatnya mulai beroperasi beberapa bulan lagi. Masihkah saya boleh menengok bayi Jambi itu nanti?

Juga ingat Seram di Maluku yang harus segera membangun minihidro. Lalu, bagaimana nasib program 100 pulau harus berlistrik 100 persen tenaga matahari. Ingat Halmahera, Sumba, Timika.

Tentu saya juga ingat Pacitan. PLTU di Pacitan belum menemukan jalan keluar. Yakni, bagaimana mengatasi gelombang dahsyat yang mencapai 8 meter di situ. Ini sangat menyulitkan dalam membangun breakwater untuk melindungi pelabuhan batu bara.

Dan Rabu 23 Oktober lusa saya janji ke Nias. Dan bermalam di situ. Empat bupati di Kepulauan Nias sudah bertekad mendiskusikan bersama bagaimana membangun Nias dengan terlebih dahulu mengatasi masalah listriknya.

Yang paling membuat saya gundah adalah ini: saya melihat dan merasakan betapa bergairahnya seluruh jajaran PLN saat ini untuk bekerja keras memperbaiki diri. Saya seperti ingat satu per satu wajah teman-teman PLN di seluruh Indonesia yang pernah saya datangi.

Dengan pikiran yang gundah seperti itulah, saya berdiri. Mengurus pembatalan terbang ke Eropa. Menarik kembali bagasi, membatalkan boarding, mengusahakan stempel imigrasi, dan meninggalkan bandara.

Hati saya malam itu sangat galau. Saya sudah telanjur jatuh cinta setengah mati kepada orang yang dulu saya benci: PLN. Tapi, belum lagi saya bisa merayakan bulan madunya, saya harus meninggalkannya. Inikah yang disebut kasih tak sampai?

KUPANDANG WANITA ITU

KUPANDANG WANITA ITU

Kupandang wanita itu, kulitnya indah memesona. Kebaikan hatinya terpancar dari rona wajah yang merona. Geraknya lembut penuh rasa. Cukup dengan kata,”terimkasih ya dik…” sangat menggetarkan hatiku. Awalnya ku berjalan hanya untuk memenuhi perut yang tak terisi semalaman, tapi Allah menakdirkan arti yang lebih mendalam. Sampai saat ini ku belum tahu siapa namanya. Tapi yang aku tahu hanya kesan mendalam yang selalu diberikannya. Ku pandangi ia perlahan, nampaknya usianya tak muda lagi(jika dilihat dari kisut di wajahnya). Lima puluh dua tahun, itu perkiraanku. Seorang ibu pedagang nasi kuning di dekat rumah yang setiap hari membuka lapaknya dengan perlahan. Dialah sosok wanita yang selalu membawaku ke dalam sebuah renungan mengenai apakah arti sebenarnya dari usia yang Allah berikan. Benarkah angka usia ini akan terus bertambah? Sampai angka berapa angka itu akan bertambah? Mengapa ibu itu jadi keriput dan kian kisut? Sejenak pikiranku melayang mengingat nenekku. Usianya tujuh puluhan. Apa aja yang dulu pernah ia lakukan? Mengapa akhirnya ia tua? Mengapa kini tidak semua hal lagi bisa ia kerjakan? Mengapa makan pun harus kini harus dijaga?

Pikiranku berganti terisi oleh wajah ibuku. Mungkin beliau sekrang masih kuat, tapi nanti bagaimana ya? Bagaimana beliau dua puluh lima tahun lagi ketika usianya sama dengan rasul? Apakah tetap secantik sekarang dan masih bisa hidup secara normal?

Wajah lain muncul, Adikku. Ratu loncat yang gerakannya liar kemana mana. Mencari ilmu penuh dengan rasa ingin tahu. Apakah ia akan sepintar saat ini? Apakah kelak pikirannya kelak akan sama tajamnya dengan saat ini? Apakah ia akan sama energiknya dengan hari-harinya yang telah lalu??

Terakhir, ketika suatu saat nanti aku pun akan didampingi oleh seorang bidadari dunia. Ku selalu berharap ialah yang terbaik bagiku. Aku mencintainya dan ia mencintaiku. Apakah suatu saat nanti cinta kami akan melemah dan habis ditelan ombak karena tidak indahnya lagi fisik kami? Atau cinta kami memang abadi karena Allah mengikatnya dalam keimanan. Wallahua’alam..

 

Maka inilah dunia, yang semuanya akan musnah kelak. Qadarullah yang bisa menentukan apakah kita akan berhasil di dunia ini atau tidak. Tapi satu hal yang pasti, Allah menakdirkan untuk mempu berusaha menjawab semua cobaan yang ada. Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam hambanya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.

Dia yang selalu hilang dan pergi… Ya Rabb, ikatlah ia dalam pikiran dan hatiku..

ilmu

Dirimu lah yang selalu datang dan pergi. Terkadang mengisi hariku yang sendu. Kemudian,  terkadang menghilang meninggalkan serpihan-serpihan yang selalu membuat penasaran. Memang ada yang tersisa, tapi jumlahnya yang tidak sempurna membuat aku ragu menyampaikannya. Atau bahkan dirimu terkadang tercampur aduk satu sama lain sehingga kebenaran yang awalnya ingin aku kokohkan malah menjadi sebuah jebakan yang membawa orang ke dalam kebingungan.

Ya rabb…

Aku sudah berusaha. Tapi mengapa ia selalu hilang dan pergi. Membuat hariku terasa hampa tak bergairah lagi. Berjuta asa telah kutanamkan. Tapi layu tak berkembang seperti hari kemarin. Apakah yang terjadi?? Mengapa ini menjadi suatu kenyataan yang semakin menjadi? Jujur, Sedih hati ini terus begini. Terjebak dalam suatu realita yang mungkin tak kusuka.

Akhirnya…

Kuawali dengan basmallah..(Bismillahirrahmanirrahim)

Ku mencoba mencari sebab-sebab atas kejadian memilukan ini. Rasanya mungkin dosaku yang terlalu banyak membuat semua yang ilmu telah aku pelajari hilang perlahan. Berkali-kali aku belajar, berkali-kali aku pula.

“ALLAH  memberikan ilmu kepada SIAPA YANG DIKEHANDAKINYA. dan sesungguhnya ia yang telah mendapatkan ilmua telah diberikan KEBAIKAN YANG SANGAT BANYAK. dan tidaklah seorangpun orang yang mendapat pelajaran kecuali ORANG-ORANG YANG BERFIKIR” (al Baqarah:269)

Dalam ayat ini ku tahu bahwa Engkau Yaa Rabb akan memberikan hikmah kepada siapa saja yang  Engkau kehendaki.Engkau akan mengaruniakan hikmah kebijaksanaan serta ilmu pengetahuan kepada siapa-siapa yang Engkau kehendaki diantara hamba-hamba-Mu sehingga dengan ilmu dan dengan hikmah itu mereka dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, antara was-was setan dan ilham dari Mu. Alat untuk memperoleh hikmah itu ialah akal yang sehat dan cerdas, yang dapat mengenal sesuatu berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti, dan dapat mengetahui sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya. Dan barang siapa yang telah mencapai hikmah dan pengetahuan yang demikian itu berarti dia telah dapat membedakan antara janji Mu dan bisikan setan. Lalu dipercayainya janji Mu dan dibuangnya bisikan setan itu.
Oleh sebab itu Engkau menegaskan bahwa siapa yang telah memperoleh hikmah dan pengetahuan semacam itu, berarti mereka telah memperoleh kebaikan yang banyak, yaitu kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat kelak. Mereka tidak mau menerima bisikan-bisikan jahat dari setan bahkan mereka menggunakan segenap pancaindra, akal dan pengetahuannya untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang batil, mana yang petunjuk Mu dan mana yang bujukan setan. Kemudian ia berserah diri sepenuhnya kepada Mu.
Engkaupun memuji orang-orang yang berakal dan mau berpikir. Mereka inilah yang selalu ingat dan waspada serta dapat mengetahui apa-apa yang bermanfaat serta dapat membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

YAA RABB… IKATLAH ILMU DAN PIKIRAN DALAM HATIKU DAN JANGANLAH BIARKAN IA PERGI MENJAUH DARI DALAM DIRIKU….AMIIN…

Memaknai episode kuliah

Ia lahir sebagi jawara di padang pasir. Pedangnya yang bernama Zulfikar lari kencang menerjang lawan. Tiada gentar menembus rintangan. Mengalahkan musuh untuk mencapai sebuah kemenangan. Hidupnya dinamis penuh dengan kejadian yang menggugah. Kisah cintanya pun manis, melembutkan hati orang0orang yang seang resah. Hidupnya sederhana tak cinta dunia. Namun Allah menghendaki dunia berada dalam genggamannya. Itulah Ali bin Abi thalib sang gerbang keilmuan setelah Rasulullah wafat. Abu sang bakar sang khalifah pertama pun kadang ragu memberikan fatwa jika tak ada Ali disisinya. Begitu pula Umar dan Utsman yang selalu menggali ilmu dari Ali walaupun usianya terpaut jauh dari para pendahulunya.

Ketika masa-masa Rasul hidup, Ali menjadi pejuang terdepan dalam sebuah peperangan. Menundukan lawan yang memberikan perlawanan. Sebuah penundukan dalam yang penuh adab dan kelembutan. Teringat ketika gema Badar dikumandangkan, juru bicara rasul berkata,”Jangan membunuh wanita dan anak-anak, jangan merusak pohon, jangan merusak tempat peribadahan dan jangan membunuh orang yang sedang beribadah.” Maka semua pun tunduk dengan keimanan dan dengan izin Allah berbuah kemenangan. Namun semuanya berubah ketika rasulullah meninggal. Ia menjadi penyendiri dan jarang berbicara. Terdiam menyepi di usia muda yang bergelora.Aada segelintir orang yang bertanya,”apakah Ali sudah tak punya taji lagi?” ,”Ataukah ali sudah hilang rasa berani di dalam dadanya?” maka jawabnya adalah ali berusaha memaknai hidup dengan sudut pandang spesial dengan mengoptimalkan apa yang telah Rasulullah banggakan darinya di waktu yang telah lalu. Jâbir bin Abdillah berkata, “Pada peristiwa Hudaibiyah, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil memegang tangan Ali as.: “Orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ Lalunya mengeraskan suaranya: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki rumah, hendaklah ia masuk melalui pintunya.’” Sungguh indah kehidupan ali dengan ilmunya. Sebuah alunan sempurna harmoni kehidupan diatas keindahan meja peradaban yang terus mengalir bersama waktu yang bergerak. Dan akhirnya tibalah waktu itu kepada kita semua. Seorang lelaki setengah baya yang baru melewati usia awal dewasa. Perfeksionitas menjadi peganganwalaupun terkadang kegamangan masih bergolak di dalam dada. Semangat terbakar menghasilkan kekuatan yang besar. Namun kesalahan sudut pandang menjadikan itu sebagai kematian dalam kehidupan.

Episode itu pun berjalan. Sebuah episode dengan buku ratusan halaman dalam genggaman. Pulpen, pensil, dan penggaris menjadi teman sejalan. Dosen-dosen yang mungkin mengajar sangat baik sehingga kita tersenyum atas dasar kepahaman, atau bahkan sebaliknya kita terjebakmenangis karena  dalam kebingungan. Saya terlalu sering berpikir betapa menjenuhkannya ini. Sebuah pembelajaran tanpa arti dengan ketidak jelasan disana-sini. Sebuah pembelajaran yang kepahaman ditunggu-tunggu setiap saat, sayangnya harapan ini terlalu sering bertepuk sebelah tangan. Ribuan judgementpun akhirnya kita keluarkan. Referensinya tidak jelas, dosennya yang tidak pernah masuk, terlalu cepat belajarnya dan lain-lain. Akhirnya dengan senang hati ketika nilai E berkumandang maka tak ada seal sama sekali. Tapi jika saya melihat pada diri saya sendiri. Sesungguhnya masih terlalu banyak kelemahan dalam pengimplementasian kehidupan sehari-hari. Tugas dikerjakan di batas waktu, buku catatan dibiarkan suci bersih tak ternodai, fotocopyan catatan teman tak kunjung dibaca, dan masih banyak sebab-sebab lain yang sebetulnya menjadi faktor E pun tersenyum pada kita. Teoretis saya legowo dengan ini(denganmasih mengasumsikan terdapat beberap kesalahan dosen dalam E ini). Tapi setelah lama merenung mengapa akhirnya saya merasa berdosa karena telah melakukan kedzaliman kepada diri sendiri dengan tidak mengerjakan kewajiban yang seharusnya dilakukan. Teringat pula abah dan emak di kampung yang mengirimi uang setiap bulan sambil berkata,”Nak kuliah yang betul ya supaya bisa ngembangin desa kita…” Maka apalah jadinya masa depan kita kalau kewajiban yang sederhana pun tak kunjung kita kerjakan?? Maka sejujurnya saya berpikir sebetulnya kesuksesan kuliah itu bergantung pada seberapa besar usaha kita untuk mencapai capaian-capaian yang direncanakan. Dan kerja keras itu muncul dari seberapa bisa kita memaknai kuliah ini sebagai sebuah sistem besar perubahan peradaban manusia.

KEEP FIGHTING DI SATU TAHUN TERAKHIR DI ITB..

BISMILLAH…SEMOGA LANCAR^^

Notes: Tulisan ini hanya untuk orang yang hobi kuliah dan setengah hobi kuliah. Bagi yang tidak hobi kuliah, berniat lulus, dan anda memiliki targetan yang jelasa mengenai masa depan anda maka anda sudah berada pada jalan yang benar. Bagi yang tidak hobi kliah dan belum punya tujuan maka carilah segera tujuan itu sebelum anda terjebak dalam kesusahan…^^

RUU INTELEGEN DISAHKAN(DARI SINDO)

JAKARTA– Berbagai kontroversi tidak menghentikan DPR dan pemerintah untuk mengesahkan RUU Intelijen. Kedua lembaga ini menganggap persoalan dalam RUU tersebut telah selesai.

Rencananya, RUU Intelijen Negara disahkan dalam rapat paripurna DPR, hari ini.Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengungkapkan, telah banyak perubahan dalam RUU Intelijen Negara yang akan disahkan tersebut.”RUU Intelijen ini nanti juga akan diback up dengan RUU Rahasia Negara, sebab tidak semua rahasia intelijen merupakan rahasia negara,”tegas Tubagus di Jakarta kemarin.

Rencana pengesahan ini langsung mendapat penolakan dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk advokasi RUU Intelijen Negara.Mereka mendesak agar DPR menunda pengesahan RUU ini karena masih banyak pasal yang dinilai bersifat subversif dan mengancam kebebasan hak asasi manusia (HAM), pers,maupun informasi.

Direktur Program Imparsial Al Araf mengatakan, RUU Intelijen seharusnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan negara untuk tetap menjamin dan melindungi kebebasan masyarakat sipil, menjaga, serta melindungi keamanan nasional. Dia menilai ada lima hal krusial dalam RUU ini yang bersifat subversif. RUU Intelijen, antara lain, tidak mengatur secara perinci kategori rahasia intelijen yang menjadi bagian dari rahasia negara. Halinimenyebabkanpasal tersebut bersifat multitafsir dan dikhawatirkan ditafsirkan sepihak oleh penguasa.

Pasal multitafsir lainnya adalah istilah dan wewenang penggalian informasi yang diatur dalam Pasal 31. RUU ini juga belum mengatur secara berlapis dan terperinci tentang pengawasan intelijen (Pasal 43). Pun demikian belum mengatur tentang mekanisme komplain apabila terdapat agen intelijen yang melakukan pelanggaran hukum.

Poin krusial berikutnya adalah pengangkatan Kepala BIN yang harus mendapatkan pertimbangan parlemen yang tercantum dalam Pasal 36. ”Dalam pemerintahan presidensial, seharusnya pengangkatan kepala BIN menjadi hak presiden agar tak dipolitisasi,”tegas Araf. Senada diungkapkan koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar.

Dia menilai pengesahan RUU ini akan menjadipenyesalanDPR,sebab RUU ini hanya berkepentingan terhadap pemberantasan terorisme dan akan memperkuat rezim penguasa.Pasal-pasal multitafsir dalam RUU ini berpotensi dimanfaatkan secara fleksibel oleh pelaksananya. Penolakan juga dilontarkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa Timur. Mereka khawatir pemerintah bisa seenaknya mengambil mahasiswa yang bersuara lantang dalam memperjuangkan hak rakyat.

Karena itu, mereka meminta agar pengesahan RUU Intelijen ditunda atau dibatalkan sebelum ada kejelasan isinya. ”Kami menolak pengesahan RUU Intelijen ini. Kami takut pemerintah bisa se-enaknya mengambil orang-orang yang bersuara lantang,” tegas Ketua BEM Universitas Airlangga (Unair) Arif Fatchurahman di Surabaya kemarin. Arif khawatir keberadaan UU Intelijen akan memunculkan kembali rezim Orde Baru.

Saat rezim itu berkuasa,ujarnya,pihak intelijen bebas menindak pihak yang dianggap mengancam keamanan nasional. Selain itu, yang menimbulkan ketakutan adalah persoalan keamanan nasional,di mana penguasa bisa membelokkan intelijen untuk melindungi kepentingannya. Sehingga pihak pihak yang kontr adenganpenguasa akan dihilangkan.

”Kami sangat khawatir keberadaan UU ini akan memasung hak asasi manusia dan demokrasi yang sedang berkembang di negara ini.Jadi,masyarakat akan takut untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat, ”tandasnya. Koordinator BEM se-Jatim Dalu juga meminta agar pengesahan RUU Intelijen ditunda, sebab di dalam draf RUU ini masih banyak kelemahan yang harus dibenahi.Salah satu persoalan yang belum bisa diterima terkait batasan kewenangan yang dimiliki intelijen.

”Dalam RUU tidak dijelaskan secara gamblang batasan-batasan kinerja intelijen. Ini sangat berbahaya bagi masyarakat,”tegasnya. Demi kebaikan masyarakat, ujarnya, sebaiknya pengesahan ditunda sampai persoalan di dalam RUU benar-benar tuntas. Dengan RUU yang memberikan kewenangan intelijen sangat luar biasa,mereka bisa menangkap orang yang dianggap bersalah seenaknya.

Padahal, orang yang ditangkap belum tentu bersalah. Sementara itu, pengamat militer dan pertahanan negara Muhadjir Effendy berpendapat keberadaan UU Intelijen saat ini dibutuhkan demi menjaga keamanan, stabilitas, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dia pun berharap tidak ada keraguan bahkan ketakutan yang mendalam ketika RUU Intelijen itu ditetapkan menjadi UU.

Muhadjir memahami selama ini masih terdapat sekelompok masyarakat yang khawatir atas keberadaan UU Intelijen ini. ”Dalam pandangan kita, RUU Intelijen itu sudah sangat mendesak untuk segera disahkan. Memang ada beberapa pasal dan ayat yang menimbulkan kontroversi di masyarakat. Pasal dan ayat yang menimbulkan kontroversi itu harus dihapus dulu agar tidak mengganggu stabilitas nasional,” tegas Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Menurut dia,semangat yang ingin dibangun pemerintah dan DPR setelah pengesahan UU Intelijen itu adalah memberikan kewenangan penuh kepada aparat intelijen negara,dengan tujuan menjaga keamanan dan keselamatan bangsa dan negara. Maka,ujarnya,untuk saat ini harus diabaikan dulu kekhawatiran kalau sampai aparat intelijen negara bekerja di luar batas kewenangannya.

Menurutnya, di era demokrasi seperti sekarang ini kekuatan sipil, termasuk satuan kerja yang lain,pasti terus mengawasi ruang gerak anggota intelijen negara. ”Menurut saya, rasa khawatir itu harus dihilangkan dulu. Kekuasaan dan kewenangan anggota intelijen pasti ada batasnya dan tidak mungkin melakukan praktik seperti yang terdahulu.Rambu-rambu HAM pasti akan dipegang teguh oleh mereka,”tegas Muhadjir. fefy dwi haryanto/arief ardliyanto/maman adi saputro

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.